Sabtu, 13 Juni 2020

Cerdas Memilih Mainan Anak, Begini Tips nya

 


Orang tua perlu memerhatikan saat memilih permainan untuk si kecil. Mulai dari aman dari bahan berbahaya, hingga jenis yang seharusnya bisa memicu perkembangan anak.

Psikolog Klinis Anak dari Tiga Generasi Anastasia Satriyo mengatakan orang tua perlu memperhatikan sejumlah hal sebelum memutuskan untuk memberikan mainan kepada buah hatinya. Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah kesesuaian mainan dengan usia anak.

“Masih ada orang tua yang memberikan mainan yang tidak sesuai dengan usia anaknya. Padahal, memberikan anak mainan yang tidak sesuai umurnya, bisa berakibat buruk, mulai dari kesulitan bermain hingga cedera,” katanya kepada Bisnis belum lama ini.

Selain itu, menurut Anastasia mainan tidak hanya digunakan untuk mengisi waktu atau menyenangkan si kecil semata. Mainan yang diberikan kepada anak bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengasah kreativitas, keterampilan, dan media belajar anak.

Dia menjelaskan untuk anak hingga usia 0-1 tahun, mainan dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengasah kemampuan sensorik dan motoriknya. Oleh karena itu, mainan untuk kelompok usia ini dirancang khusus untuk menarik perhatian bayi dengan bahan-bahan seaman mungkin. 

“Contohnya mainan yang mengeluarkan lagu atau suara untuk menarik perhatian yang digantung untuk untuk menstimulasi mata dan merangsang kepekaan. Kemudian mainan-mainan seperti cincin susun untuk melatih motorik. Perlu diperhatikan bahannya karena anak akan sering memegangnya dan menggigitnya,” tuturnya.

Kemudian untuk anak usia 1-3 tahun mainan yang diberikan kepada mereka harus bisa merangsang daya pikir, motorik halus, dan memperkuat otot. Selain itu, mainan yang diberikan juga sebaiknya mendukung proses anak mengenali lingkungan sekitarnya lantaran di usia tersebut anak mulai mencari tahu cara kerja benda-benda yang ditemuinya.

“Mainan yang diberikan juga sebaiknya mendukung perkembangan kecerdasan emosi, melatih keahlian bersosialisasi. Contohnya mainan-mainan yang mana anak menirukan aktivitas-aktivitas tertentu dan berinteraksi dengan orang tuanya,” ungkapnya.

Untuk usia 3-5 tahun mainan yang diberikan kepada anak pada dasarnya tak jauh berbeda dengan mainan yang diberikan untuk anak usia 1-3 tahun. Namun, tingkat kesulitannya sudah bisa ditingkatkan menyesuaikan kemampuan anak yang terus meningkat.

Usia tiga tahun biasanya menjadi batas umur minimal banyak mainan yang diperuntukkan untuk anak hingga usia sekolah. Namun, bukan berarti mainan yang mencantumkan usia minimal tiga tahun bisa diberikan begitu saja.

“Mainan yang diberikan kepada anak harus mempertimbangkan minat mereka. Selain itu, perlu diperhatikan juga apakah mainan yang diberikan berpotensi membahayakan atau melukai anak ketika dimainkan. Kemudian untuk mainan tertentu, khususnya konsol gim dan sejenisnya perlu pengawasan dan penggunaannya perlu dibatasi,” paparnya.

Terkait dengan mainan yang berpotensi membahayakan dan melukai anak, Kementerian Perindustrian telah mewajibkan seluruh mainan yang beredar di Tanah Air untuk memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). SNI untuk mainan anak diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian No 55/M-Ind/PER/11/2013/ yang mulai diterapkan pada 2014. 

Beleid tersebut menyatakan bahwa mainan adalah setiap produk atau material yang dirancang  atau dengan jelas diperuntukkan penggunaannya oleh anak dengan usia 14 tahun ke bawah.

Sebelum wajib SNI ditetapkan untuk mainan anak, tak dapat dipungkiri bahwa banyak beredar mainan-mainan yang membahayakan anak-anak. Tak terkecuali mainan edukasi yang diperuntukkan bagi anak-anak dibawah lima tahun (balita) [bisnis.com]




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Follow by Email